Agen Asuransi, Profesi Mulia yang Menjanjikan

agen asuransi

oleh : Muhammad Fajar Marta via KOMPAS.COM

Saat ini profesi agen asuransi belum menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Bahkan, profesi ini kerap dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Padahal, agen asuransi merupakan profesi mulia yang juga menjanjikan secara finansial.

“Ini profesi mulia, karena agen asuransi membantu orang yang sedang kesusahan akibat terkena musibah atau risiko,” ujar Sie Keristina, Senior Financial Planner Manulife Indonesia dalam keterangan resmi.

Keristina menceritakan, selama menjadi agen asuransi, beberapa kliennya meninggal dunia akibat kecelakaan maupun sakit. Beberapa meninggal dunia karena menderita kanker dan penyakit kritis lain.

“Keluarga yang ditinggalkan tentu terbantu berkat uang klaim yang dibayarkan perusahaan asuransi. Uang itu bisa digunakan untuk kebutuhan hidup keluarga itu selanjutnya,” ujar dia.

Menurut salah satu agen terbaik Manulife ini, sayangnya profesi agen asuransi hanya  menjadi pilihan terakhir bagi sebagian besar masyarakat. Biasanya, seseorang baru mau menjadi agen asuransi saat ia sedang menganggur, atau untuk mengisi waktu luang sambil menunggu lamaran pekerjaannya di tempat lain diterima.

“Padahal, pekerjaan sebagai agen asuransi juga memiliki prospek yang menjanjikan dari sisi penghasilan. Kalau profesi lain, setelah lulus kuliah, paling rata-rata terima gaji sebesar upah minimum regional (UMR) dari company. Kalau jadi agen, kita yang menentukan penghasilan, bukan company,” ujar Keristina yang tahun ini dinobatkan sebagai Top Agent of The Year Manulife.

Mantan karyawan sebuah perusahaan properti ini mengungkapkan, sejak menjadi agen Manulife pada 2003, penghasilannya bisa berlipat-lipat dari sebelumnya.

“Bekerja menjadi agen tidak susah kok. Apalagi, sudah banyak orang yang menyadari pentingnya asuransi. Dulu banyak orang enggan bicara soal risiko meninggal dunia, sekarang orang cenderung mencari proteksi,” papar dia.

Menurut Keristina, peluang berhasil di industri asuransi sangat tinggi, apalagi penduduk Indonesia jumlahnya besar, sementara penetrasi asuransi masih sangat rendah. “Potensinya besar, sebab pasar asuransi Indonesia masih sangat terbuka,” tutur sarjana ekonomi ini. Ia mengisahkan, awalnya terjun menjadi agen karena diajak teman. Keristina beralih menjadi agen asuransi karena  karena ingin dekat dengan anak dan memiliki banyak waktu luang. “Saya berpikir, kerja apa yang bisa dijalani sambil mengurus rumah tangga, tetapi juga menghasilkan. Ternyata profesi agen asuransi menjadi jawaban. Akhirnya saya fokus pada pekerjaan sebagai agen hingga saat ini tidak terasa 14 tahun sudah berjalan” kisahnya.

Hal senada dikatakan Stella Elsya, anggota Manulife Titanium Club di Singkawang, Kalimantan Barat. Menurut dia, profesi agen asuransi itu istimewa. “Ini pekerjaan mulia. Ada beberapa nasabah yang divonis menderita penyakit kritis seperti serangan jantung, kanker, mereka bisa mendapatkan uang klaim. Ini tentu bisa membantu meringankan beban mereka. Saya sungguh berkesan saat bisa membantu klien seperti itu,” papar Stella.

Memang, ada tanggung jawab besar untuk melayani nasabah. Bahkan, agen harus siap 24 jam untuk membantu nasabah yang tengah menghadapi risiko. “Nasabah menjadi keluarga kita. Mereka membeli asuransi ke kita, tentu musti kita bantu, nasabah harus diprioritaskan,” kata Stella yang banyak meraih prestasi sebagai agen Manulife terbaik sejak bergabung pada 2007. Stella mengisahkan, awalnya ia tidak berniat menjadi agen asuransi. Namun, suatu ketika ia bertemu Tjhai Chui Mie, agen asuransi Manulife. Saat ini Tjhai menjabat sebagai Wali Kota Singkawang. Tjhai merupakan wali kota perempuan pertama di Singkawang. Tjhai-lah yang menginspirasi dirinya untuk menjadi agen asuransi. Stella juga tertarik dengan fasilitas dan penghasilan yang akan diperoleh jika menjadi agen yang sukses. Kini, harapan-harapan itu akhirnya terealisasi. Stella menambahkan, kunci keberhasilan seorang agen adalah tekun, bekerja maksimal, dan konsisten. “Itu saja. Bagi saya, selagi kita punya target, harus konsisten mencapainya. Bagaimanapun susahnya, walau ada halangan, kita musti berusaha. Agen yang tidak punya sifat konsisten, akan susah,” tukasnya.

Dengan penghasilannya sebagai agen asuransi, Stella bisa jalan-jalan ke luar negeri dan menginap di hotel bintang lima setiap tahun. Ia sudah pernah berlibur ke banyak negara seperti AS, Rusia, Jepang, dan negera lainnya.  Tumbuh Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengatakan, industri asuransi jiwa tetap tumbuh signifikan meskipun kondisi ekonomi domestik dan global sedang lesu. “Buktinya, dalam kondisi ekonomi terjelek di tahun 2015 lalu, asuransi jiwa masih bisa tumbuh 10 persen,” ujar Hendrisman.

Bahkan, tahun ini, meskipun perekonomian global masih lesu, industri asuransi jiwa diperkirakan bisa tumbuh hingga 30 persen. Tahun 2016, AAJI mencatat total pendapatan industri asuransi jiwa tumbuh 57,4 persen menjadi Rp 208,92 triliun. Padahal saat itu, tengah terjadi perlambatan ekonomi global maupun domestik. Pertumbuhan asuransi jiwa ke depan diperkirakan akan tetap tinggi, apalagi melihat tingkat penetrasi asuransi di Indonesia yang masih sangat rendah. Berdasarkan data AAJI, penetrasi asuransi di Indonesia per triwulan I 2017 hanya 2,7 persen. Angka itu lebih rendah dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand yang sudah di atas lima persen.

Untuk mendaftar menjadi Agen Asuransi silahkan klik DI SINI

Share

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *